Living in The Moment, Preparing for The Future..

Senin, 21 Mei 2012

11.07 Posted by Arie Abdul Ropi No comments Posted in ,
Posted by Arie Abdul Ropi on 11.07 with No comments | Categories: ,
Berikut adalah contoh Praktikum Biologi tentang Cara Pembuatan Pupuk Cair (BIO MOL) yang pernah saya lakukan ketika saya SMA.

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pupuk merupakan zat yang fungsinya untuk meningkatkan kesuburan tanaman. Pupuk di bagi ke dalam 2 macam yaitu pupuk organic dan pupu anorganik. Pupuk organic ialah pupuk yang di hasilkan dari sisa-sisa mahluk hidup yang sudah mati. Sedangkan pupuk anorganik ialah pupuk yang di buat dari buatan manusia menggunakan za-zat kimia buatan. Salah satu pupuk organic ialah Biomol. Biomol adalah suatu zat yang fungsinya sama seperti pupuk, namun dalam bentuk cair yang di hasilkan dari sisa-sisa makanan.
Dewasa ini pupuk merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi untuk kebutuhan pertanian. Namun pada kenyataannya banyak peteani-petani yang masih banyak menggunakan pupuk-pupuk anorganik karena sifatnya yang mudah didapat dan harganya murah namun pupuk jenis tersebut dapat berbahaya bagi lingkungan.
Oleh karena itu sebaiknya pupuk yang digunakan pupuk yang berasal dari mahluk hidup atau pupuk organic. Salah satu pupuk organic yang mudah di buat dan dapat mengurangi jumlah sampah ialah mol. Karena mol dibuat dari sisa-sisa makanan rumah tangga.



BAB 2
TINJAUAN MATERI

1.1 Dasar teori
Membuat pupuk organik sebenarnya sangatlah mudah, bahkan tanpa tempat dan mesin khusus. Secara alami limbah organik akan terurai dengan sendirinya. Namun dengan membiarkannya begitu saja, proses pembusukan membutuhkan waktu yang cukup lama. Salah satu activator yang cukup murah adalah larutan MOL (Mikro Organisme Lokal)
Larutan MOL (Mikro Organisme Lokal) adalah larutan hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai sumber daya yang tersedia setempat baik dari tumbuhan maupun hewan. Larutan MOL mengandung unsur hara mikro dan makro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik dalam tanah, perangsang pertumbuhan pada tanaman, dan sebagai agens pengendali hama dan penyakit tanaman
Peran MOL dalam kompos, selain sebagai penyuplai nutrisi juga berperan sebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga proses tumbuh tanaman secara optimal. Fungsi dari bioreaktor sangatlah kompleks, fungsi yang telah teridentifikasi antara lain adalah penyuplai nutrisi melalui mekanisme eksudat, kontrol mikroba sesuai kebutuhan tanaman, menjaga stabilitas kondisi tanah menuju kondisi yang ideal bagi pertumbuhan tanaman, bahkan kontrol terhadap penyakit yang dapat menyerang tanaman
Larutan MOL ini dibuat sangat sederhana yaitu dengan memanfaatkan limbah dari rumah tangga atau tanaman di sekitar lingkungan misalnya sisa-sisa tanaman seperti bonggol pisang, gedebong pisang, buah nanas, jerami padi, sisa sayuran, nasi basi, dan lain-lain.
Bahan utama dalam larutan MOL teridiri dari 3 jenis komponen, antara lain :
1. Karbohidrat : air cucian beras, nasi bekas, singkong, kentang dan gandum
2. Glukosa : cairan gula merah, cairan gula pasir, air kelapa/nira
3. Sumber bakteri : keong mas, buah-buahan misalnya tomat, papaya, dan kotoran hewan
Berikut ini berbagai contoh larutan MOL (mikro organisme lokal) yang sudah dibuat dan diaplikasikan para petani antara lain :
1. MOL buah-buahan untuk membantu malai (bulir padi) agar lebih berisi.
2. MOL daun cebreng untuk penyubur daun tanaman, disemprotkan pada padiumur 30 HST.
3. MOL bonggol pisang untuk dekomposer saat pembuatan kompos, dan disemprotkan pada tanaman padi 10, 20, 30 dan 40 HST.
4. MOL sayuran untuk merangsang tumbuhnya malai (bulir padi), disemprotkan pada usia padi 60 HST.
5. MOL rebung bambu untuk merangsang pertumbuhan tanaman, disemprotkan pada usia padi 15 HST.
6. MOL limbah dapur untuk memperbaiki struktur fisik, biologi, dan kimia tanah, disemprotkan pada saat olah tanah.
7. MOL protein untuk nutrisi tambahan pada tanaman, disemprotkan pada usia 15 HST.
8. MOL nimba dan surawung untuk mencegah penyakit tanaman




BAB 3
METODE PENELITIAN

1.1 Metode Penelitian
Metode penelitian dilakukan dengan cara melakukan praktikum langsung di laboratorium dengan cara membuat larutan MOL (mikro organisme lokal) yang kemudian disimpan lebih kurang 14 hari.

1.2 Tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Biologi Kampus SMA Negeri 2 Tasikmalaya.

1.3 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 18 januari 2012, Lamanya penelitian berlangsung lebih kurang selama 1 jam pelajaran.

1.4 Alat dan bahan
Alat :
• Pisau
• Ember
• Saringan
• Ember
• Gayung
• Tatakan kayu
• Plastik
• Tali

Bahan :
• Gula Merah
• Air kelapa
• Air cucian beras
• Sayuran dan buah-buahan busuk

1.5 Langkah Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunkan dalam pembuatan mol,
2. Isi ember dengan air kelapa dan cucian beras dengan perbandingan 1:1,
3. Haluskan gula merah, kemudian masukan ke dalam ember yang berisi campuran air kelapa dan cucian beras,
4. Mulalah memotong limbah yang berukuran besar, termasuk buah mengkudu,
5. Masukan limbah sedikit demi sedikit kedalam ember, aduk sampai merata.
6. Setelah merata tutup ember dengan plastik dan berikan sedikit air diatas plastik,
7. Simpan selama kurang lebih 2 minggu dan pastikan kedap udara.

7.1 Metode pengumpulan data
1. Eksperimen, dengan melakukan percobaan dan pengujian pada penelitian yang dilakukan.
2. Studi Pustaka (library research), dengan melakukan kajian dari berbagai literatur yang sesuai dengan penelitian

7.2 Metode pengolahan data
1. Melakukan praktikum;
2. Mengumpulkan data;
3. Mengedit data;
4. Membuat laporan penelitian.



BAB 4
HASIL PENELITIAN
Hasil dari penelitian yang kami lakukan berdasarkan cara kerja diatas ialah, kami telah membuat mol yang telah siap paai, namun untuk menggunakannya supaya lebih baik kita harus menggunakan perbandingan 1:10. 1 untuk jumlah volume mo, dan 10 untuk jumlah volume air.



BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

1.1 Kesimpulan
Proses pembuatan pupuk cair dengan bahan organik seperti sampah-sampah dapur, kulit buah dan sejenisnya tidaklah sulit bila kita mempunyai niat dan usaha untuk membuatnya. Bahan dan alat yang ada hampir semuanya sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memanfaatkan bahan-bahan dari sampah organik yang tidak merusak ekosistem dan habitat di lingkungan sekitar tentunya akan meningkatkan kapasitas dan produksi pada pertanian maupun perkebunan bahkan bagi yang mempunyai kegemaran dengan tanaman seperti bunga dan buah-buahan.
Seiring meningkatnya suhu di permukaan bumi, penggunaan berbagai bahan organik daripada kimia untuk menyuburkan tanaman di perkebunan misalnya akan mengurangi dan menyuburkan permukaan tanah dengan pupuk cair organik sebagaimana yang telah dilakukan proses pembuatannya di atas. Hal ini tentunya akan sangat membantu dalam mengurangi tingkat polusi dan pencemaran dalam tanah sehingga menekan banyaknya limbah rumah tangga dan dapur yang sangat mengganggu. Sehingga limbah yang tadinya merusak dan mengganggu ekosistem lingkungan akan menyuburkan tanah melalui pembuatan pupuk cair dengan bahan organik.
Apabila dilihat dari segi ekonomi, pembuatan pupuk cair juga dapat menjadi suatu alternatif dalam mengurangi dan menekan angka pengangguran dan pastinya akan dapat membuka dan menambah peluang lapangan kerja. Tingginya angka pengangguran di negeri ini sudah sangat memprihatinkan. Setiap tahun angka lulusan peserta didik dari lembaga formal tidak seimbang dengan lapangan kerja yang ada. Hal itu belum dilihat dari para peserta didik yang gagal dalam menempuh ujian akhir yang akhirnya harus meneruskan dan mengulang serta mendaftar pada lembaga pendidikan nonformal seperti Kejar Paket di PKBM untuk mengikuti Ujian Kesetaraan.
Hal terpenting yang perlu dimiliki oleh peserta belajar pada lembaga pendidikan non-formal sekarang adalah bukan pengetahuan secara teoretis namun skill lebih dibutuhkan dan tentunya akan mampu menambah kemampuan dan ketrampilan para calon penerus generasi bangsa tersebut.

1.2 Saran
Untuk penelitian kedepanya, harus lebih diperhatikan hal-hal berikut:
1. Untuk pengsisian air pada tabung reaksi diusahakan untuk jangan ada udara yang masuk ke dalam tabung reaksi ;
2. Dalam penyimpanan tanaman pada corong, usahakan agar batang tanaman tidak masuk ke dalam corong, karena itu akan menghambat proses keluarnya gelembung ke dalam tabung reaksi.
3. Menentukan waktu penelitian yang lebih tepat, agar suhu lingkungan tidak berubah-rubah sehingga sulit untuk menentukan data yang akurat.


DAFTAR PUSTAKA
• www.scribd.com
• id.answer.yahoo.com
• www.wikipedia.org.id
Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Bookmark Us

Delicious Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search